Bunga selalu punya satu masalah klasik: indahnya singkat. Hari ini mekar, besok mulai menunduk. Dari sinilah lahir dua pendekatan populer untuk “menyelamatkan” keindahan bunga: Oshibana (pressed flower art) dan Resin Flower. Keduanya sama-sama mengawetkan bunga, tapi filosofi, dampak lingkungan, dan daya tahannya jauh berbeda.

Pertanyaannya bukan sekadar mana yang lebih cantik, tapi mana yang lebih masuk akal untuk jangka panjang, secara estetika, lingkungan, dan nilai guna.

Apa Itu Oshibana?

Oshibana berasal dari Jepang dan sudah dikenal sejak ratusan tahun lalu. Tekniknya sederhana tapi presisi: bunga dikeringkan dengan tekanan, sehingga kadar airnya hilang dan bentuknya “terkunci” di permukaan kertas khusus. Hasilnya adalah karya seni dua dimensi, ringan, rapuh, tapi penuh karakter.

Yang menarik, Oshibana tidak butuh bahan kimia berat. Prosesnya mengandalkan:

  • pengeringan alami,
  • tekanan mekanis,
  • kertas arsip (acid-free) agar warna lebih awet.

Karena itu, Oshibana sering dianggap sebagai metode pengawetan bunga paling rendah jejak karbonnya, asal dilakukan dengan benar.

Apa Itu Resin Flower?

Resin flower adalah bunga asli yang diawetkan di dalam resin sintetis (umumnya epoxy atau UV resin). Hasil akhirnya mengkilap, keras, dan terlihat “beku dalam waktu”. Secara visual, resin flower sering terlihat lebih modern dan mewah.

Namun, resin membawa konsekuensi:

  • berasal dari bahan kimia berbasis petroleum,
  • sulit terurai secara alami,
  • proses curing menghasilkan limbah dan uap kimia jika tidak ditangani dengan standar keamanan.

Resin flower unggul dari sisi ketahanan fisik, tapi kalah telak dalam isu keberlanjutan.

Dari Buket ke Karya: Titik Awal yang Sama

Menariknya, kedua metode ini sering berangkat dari sumber yang sama: bunga potong. Tidak sedikit orang yang mengawetkan bunga buket dari momen penting, pernikahan, wisuda, atau peringatan personal, agar tidak berakhir di tempat sampah.

Di sinilah Oshibana dan resin flower bertemu: sama-sama mengubah bunga dari objek konsumsi sesaat menjadi artefak bermakna.

Perbandingan Lingkungan: Mana Lebih Ramah Bumi?

Kalau bicara environmental impact, Oshibana jelas lebih unggul.

Oshibana:

  • Minim bahan tambahan
  • Tidak menghasilkan limbah kimia
  • Mudah terurai secara alami (jika tanpa pelapis plastik)
  • Sejalan dengan prinsip slow living dan sustainability

Resin Flower:

  • Menggunakan bahan sintetis
  • Sulit didaur ulang
  • Berisiko menghasilkan mikroplastik jangka panjang
  • Umur panjang, tapi jejak ekologinya juga panjang

Dari sudut pandang lingkungan, resin flower bisa dibilang “tahan lama tapi meninggalkan jejak”, sementara Oshibana “rapuh tapi bertanggung jawab”.

Ketahanan: Mana yang Lebih Awet?

Di sini, resin memang unggul.

  • Resin flower bisa bertahan puluhan tahun, tahan air, dan tidak mudah rusak.
  • Oshibana lebih sensitif terhadap cahaya, kelembapan, dan sentuhan.

Namun, “awet” tidak selalu berarti “bernilai”. Banyak kolektor seni botani justru menghargai Oshibana karena sifatnya yang finite, ia menua secara alami, seperti lukisan klasik atau arsip kertas tua.

Dalam praktik modern, bahan pendukung kedua metode ini tidak selalu tersedia lokal. Kertas arsip berkualitas tinggi, silica gel food-grade, hingga resin dengan standar keamanan tertentu sering kali berasal dari luar negeri. Karena itu, pelaku seni botani dan craft preservation kerap bersinggungan dengan proses kirim barang dari Amerika ke Indonesia, terutama untuk material yang belum diproduksi secara massal di dalam negeri.

Fakta ini penting, karena pilihan material sangat memengaruhi hasil akhir, baik dari sisi ketahanan warna maupun keamanan penggunaan.

Mana yang Lebih Masuk Akal untuk Masa Depan?

Menuju 2026, tren global menunjukkan pergeseran ke arah:

  • karya berumur panjang tapi rendah dampak lingkungan,
  • seni berbasis proses, bukan sekadar hasil,
  • konsumsi yang lebih sadar dan personal.

Dalam konteks ini, Oshibana punya posisi kuat sebagai seni yang relevan dengan isu keberlanjutan. Resin flower masih punya pasar, terutama untuk dekorasi dan perhiasan, tapi akan menghadapi tantangan regulasi dan kesadaran lingkungan.

Kesimpulan

Oshibana dan resin flower bukan soal mana yang “lebih bagus”, tapi mana yang paling sesuai dengan nilai dan tujuan.

  • Mau karya yang ramah lingkungan, bernapas, dan penuh filosofi? Oshibana.
  • Mau hasil super awet, kuat, dan modern? Resin flower.

Yang jelas, keduanya adalah bukti bahwa bunga tidak harus berakhir layu. Dengan pendekatan yang tepat, keindahan bisa berubah bentuk, dari sesuatu yang sementara menjadi sesuatu yang bermakna.

Share this post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *